 |
| Gambar1.0 Maaf, dan terima kasih, Kipas Angin |
Tiba-tiba saja tiga hari yang lalu baling-baling si Kipas Angin berhenti berputar. Tidak ada api, tidak ada asap, baling yang hampir tiap malam selalu berputar selama hampir tiga tahun belakangan ini, sekonyong-konyong hening. Si Kipas Angin rusak.
Kalau sudah begini, barulah saya sadari betapa pentingnya hadirnya si Kipas Angin. Bahwa hembusan lembut si Kipas Anginlah yang membuat saya tidak kepanasan sehingga tidak tiba-tiba terbangun dari lelapnya tidur karena keringat yang sudah membanjir. Si Kipas Anginlah yang membuat saya tidak emosi karena gerah. Membuat saya tetap berkonsentrasi dengan pekerjaan tanpa harus terganggu respon kulit yang mengisyaratkan suhu ruangan sudah tidak nyaman.
Oh, apakah memang harus selalu seperti ini skenarionya: Mengerti ketika pergi? Menghargai ketika sudah tak ada lagi?